Minggu, 26 Mei 2013

Surat Kecil Untuk Ayah


Untuk ayah tercinta, Aku ingin bernyanyi
Walau air mata dipipiku
Ayah dengarkanlah, Aku ingin berjumpa
Walau hanya dalam mimpi

            Ayah.. aku rindu ayah. Aku ingin bertemu ayah, walaupun itu hanya dalam mimpiku.

        Ayah, aku sering sekali merasa iri dengan teman-temanku. Yang masih bisa memanggil nama atau sebutan ‘Ayah’, ‘Bapak’, ‘Abi’, ‘Abah’, ‘Dad’, ‘Father’ dan semacamnya, Yah. Ayah.. aku selalu iri jika teman-temanku cerita tentang ayahnya, aku iri jika temanku cerita tentang kasih sayang ayahnya. Aku selalu iri jika temanku diantar dan dijemput saat pergi dan pulang sekolah, diantar mendaftar kuliah, diantar ke daerah seberang kota untuk kuliah, ditunggui saat Ujian Seleksi Masuk PTN maupun Lapor diri dan Verifikasi, diantar mencari kos, kontrakan, asrama ataupun Pontren (baca : Pondok Pesantren). Aku selalu iri jika temanku selalu diberi kejutan-kejutan indah dari ayahnya.
          Ayah.. aku tak ingin membebani Ayah karena aku selalu merindukan Ayah. Aku tak ingin menghambat jalan Ayah di akhirat sana untuk menuju syurga hanya karena aku sering memanggil nama Ayah, belum merelakan Ayah sepenuhnya. Karena memang aku masih sangat membutuhkan Ayah. Maafkan aku, Ayah. Bukan semua itu yang aku inginkan. Aku hanya ingin Ayah tenang di syurga sana. Aku hanya ingin Ayah bahagia melihatku bisa tumbuh menjadi seorang anak yang kuat, tangguh, sabar, bisa selalu menerima keadaan dengan hati ‘legowo’. Aku hanya ingin Ayah bahagia melihatku bisa membahagiakan Ibu, Adik, Nenek, Kakek dan semua orang yang Ayah sayangi. Aku hanya ingin Ayah bangga kepadaku. Aku tak ingin mengecewakan Ayah, dan aku tak boleh mengecewakanmu, Ayah.
     Ayah, aku masih ingat waktu itu. Saat itu bulan Rhamadan, dimana seluruh umat Islam sedang menjalankan ibadah puasa. Saat itu aku masih kecil, imut dan lucu (hehe.. ini beneran hlo, aku masih unyu-unyu), saat itu aku masih berumur 2,5 tahun. Seperti biasa, tradisi di Indonesia, jika hari sudah mendekati hari lebaran, semua pada berbondong-bondong untuk pulang ke kampung halaman alias pulkam (atau biasa pada nyebut ‘mudik’). Bagitu juga dengan Ayah. Dari Depok sampai Sragen ayahku pulang dengan mengendarai motor kesayangannya yang dibeli dari uang hasil kerja keras ayah sendiri (dan ini bukan hasil korupsi). Entah kenapa pada saat itu, tepatnya di daerah Pekalongan ada tragedi lalu lintas (kecelakaan maut) yang sungguh menyisakan duka bagi siapapun yang mengalaminya. Dan itu terjadi pada ayah, ayahku, ayah dari si Uliya Mahalin kecil. Kecelakaan yang sungguh tragis, yang mampu merenggut nyawa siapapun yang dihadangnya. 
      Melihat tragedi lalu lintas itu, warga setempat langsung berbondong-bondong membantu korban kecelakaan. Dan polisipun segera datang dan mengotopsi korban, termasuk ayahku. Dan ternyata Allah berkehendak lain. Allah begitu menyayangi Ayah, dan Dia telah mengambil kembali nyawa yang telah dititipkan kedalam jasad Ayah. Iya, dia ayahku.. Begitu identitas ayah sudah jelas, polisi langsung mengabari keluarga ayah dan mengantar ayah sampai ke Sragen. 
          Ayah tidak dipulangkan ke rumah ayah sendiri (di Senden, rumah buatan dari hasil kerja ayah sendiri, yang sekarang Alhamdulillah masih berdiri kokoh yang ditempati aku, ibu dan adikku), akan tetapi langsung dibawa ke rumah orangtua ayah di Cermo, karena memang ayah dimakamkan di desa kelahirannya sana. Begitu jenazah ayah tiba di rumah duka, semua orang menangis histeris karena merasa kehilangan sosok yang begitu baik dan santun itu. Terutama Bulikku (dan terutama lagi Lek.Waridah, adik pertama dari ayah), dan tentunya ibuku juga menangis. Tetapi ibuku masih bisa menenangkan diri, karena ibu tahu dan paham pasti bahwa meratapi ayah hanya akan menghambat jalan ayah menuju sisi Allah. Aku melihat ibu begitu kuat, ibulah yang malah menenangkan bulikku yang masih menangis histeris.
        Ketika acara ‘lelayu’ sudah dimulai, semua orang datang ikut berbelasungkawa mengantarkan kepergian ayahku. Uliya kecil masih begitu polos. Pada saat itu, orang-orang bilang kepadaku kalau ini sedang ada acara hajatan, sehingga banyak orang yang datang. Aku bingung, kalau hajatan mengapa banyak orang yang menangis? Dan mereka menjawab kalau teman ayahku meninggal. Dan aku yang masih polos percaya begitu saja. Dan tiba waktu melihat ayah untuk yang terakhir kalinya. Pada saat itu aku benar-benar masih polos, tak tahu apa-apa. Aku tak tahu kalau ayahku telah meninggal.
        Aku digendong Paklikku (Lek.Amir, adik laki-laki pertama dari ibuku) untuk melihat jenazah ayah. Masih terukir jelas dalam memoriku, dalam peti jenazah itu ada ayah dengan pakaian putih bersih, dengan harum wewangian yang begitu semerbak, dan kulihat wajah ayah tersenyum kepadaku, sepertinya menyampaikan sebuah pesan kepadaku : “Nak, jaga ibumu ya. Jadilah anak yang berbakti pada ibumu. Ayah akan pergi jauh, kamu tak boleh jadi anak yang nakal dan cengeng.” Akan tetapi aku benar-benar belum paham apa-apa. Saat kulihat leher ayah, tak sengaja aku mendapati kepala ayah terpenggal. Uliya kecil bertanya dalam hati : “Siapakah ini?, kasihan sekali. Mengapa lehernya terpenggal? Bagaimana itu bisa terjadi?” Pada saat itu aku benar-benar tak mengenali wajah ayahku, karena wajah ayah pada saat itu benar-benar berbeda. Dan setelah ayah disholatkan beberapa kali jamaah, jenazah ayah mulai dibawa ke makam desa Cermo, yang letaknya tidak begitu jauh dari rumah duka.
          Hari demi hari telah berlalu. Setiap hari jika aku rindu ayah, setiap kali aku selalu bertanya ke ibu. “Ibu, ayah kemana sih. Kok ndak pernah pulang ya. Apa Ayah ndak kangen sama aku?”. Dengan raut muka yang sedih, ibu selalu bersaha menjawab, “Ayah masih kerja, Nak. Doakan saja supaya ayah dapat rezeki banyak dan segera pulang. Ayah kerja untuk cari rezeki supaya kamu dapat sekolah, Nak. Supaya kamu dapat sekolah tinggi dan dapat mewujudkan cita-citamu.” Berulang kali aku tanya hal yang sama dan ibu selalu menjawab hal yang sama seerti itu. Uliya kecil yang masih polos selalu senang jika ibu menjawab seperti itu. “Berarti ayah sayang sama aku dan ayah ingin aku sekolah tinggi”, pikirku.
           Tak hanya itu. Setiap kali kakekku (ayah dari ibuku) pulang dari Depok (dulu ayahku bekerja dengan kakelku di Depok sana jualan jagung rebus), aku selalu bertanya kapada kekek, “Kek, kok pulangnya sendirian, ndak sama ayah. Kenapa ayah ndak ikut pulang sekalian, kek. Kan aku udah kangen banget sama ayah”. Dan kakekku selalu saja menjawab, “Ayahmu masih banyak kerjaan yang harus diselesaikan, Nak. Ayah besok juga pulang, kok. Ayahmu ingin cari rezeki yang banyak dulu untuk sekolah anak kesayangannya, si Uliya. Oh ya, ini ayahmu nitip oleh-oleh ke kakek, buah rambutan (ace) kesukaanmu, banyak banget hlo”. Dan aku percaya begitu saja dan aku selalu girang kalau udah dapat ‘oleh-oleh buah rambutan dari ayah’.
          Dan hal inipun terus berlanjut bertahun-tahun sampai akhirnya Uliya kecil sudah mulai beranjak besar. Dan pada saat aku sudah menginjak umur 5 tahun, aku mulai mengerti sendiri mengapa ayahku tidak pernah pulang lagi. Karena memang ayah telah meninggal. Ayah sudah tidak ada lagi di sampingku. Tak ada lagi ayah yang selalu mengajakku kemanapun ia pergi. Tak ada lagi ayah yang selalu menggendongku setiap ba’da maghrib  melantunkan doa-doa ditelingaku saat aku masih bayi. Tak ada lagi ayah yang memarahiku karena aku menuangkan banyak minyak ke punggungnya saat aku ikutan ibu ‘ngerokin’ ayah. Tak ada lagi ayah di sampingku, tak ada lagi ayah di hidupku.

Tuhan tolonglah, sampaikan sejuta salamku untuknya
Ku trus berjanji, tak kan khianati pintanya
Ayah dengarlah, betapa sesungguhnya ku mencintaimu
Kan ku buktikan, ku mampu penuhi maumu 

         Dan kini saatnya aku yang akan selalu mengirimimu dengan doa-doaku, Ayah. Doakan aku supaya aku bisa istiqomah mendoakanmu sampai nanti aku menyusulmu kelak.

Salam cinta, sayang dan rindu. Putrimu, Uliya Mahalin.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar